MENENGOK SERTIFIKASI GURU SEKOLAH LUAR BIASA (SLB)


Oleh: Yuswan,S.Pd

Siapa  guru itu ?

Ada banyak pemahaman/pengertian  atas sebuah  profesi guru…

Secara awam banyak yang menyebut dirinya sebagai guru… walau tidak selamanya  memenuhi persyaratan profesinya… Coba kita pahami bersama siapa sebenarnya yang bisa dianggap sebagai guru ?…

Menurut Moh. Uzer Usman, guru adalah jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Pekerjaan ini tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak memiliki keahlian untuk melakukan kegiatan atau pekerjaan sebagai guru. Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat tertentu, apalagi sebagai guru yang profesional yang harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu atau pendidikan pra-jabatan.( Usman, Moh. Uzer, 1998).

Sedangkan menurut Undang-undang RI Nomer 14 tahun 2005, bab I, pasal 1, ayat, 1 disebutkan, bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. (UU nomer 14 tahun 2005)

Dari pengertian di atas maka seorang guru, bisa juga dikatakan sebagai :

1.    Seorang Pendidik

2.    Seorang Pengajar

3.    Seorang Pembimbing

4.    Seorang Pengarah

5.    Seorang Pelatih

6.    Seorang Penilai dan

7.    Seorang Pengevaluasi (evaluator) bagi peserta didik.

Terlepas dari banyaknya penggunaan istilah guru dalam kehidupan di masyarakat, seorang guru yang telah melaksanakan tugas profesinya baik di dunia pendidikan formal atau pendidikan non formal idealnya mendapatkan imbalan. Apakah dalam bentuk material atau non material, minimal  perlakuan yang sama diantara mereka. Sebenarnya tidak diragukan lagi begitu besar peranan guru.

Penulis merasa sudah diberi perlakuan sama dengan tenaga guru pada umumnya oleh Pemerintah Kabupaten, namun masih merasa prihatin karena ada sebagian  teman-teman belum mendapatkan perlakuan seperti penulis.  Oleh karena itu sekedar mengingatkan kita bahwa guru tetap guru, tak bisa diganti dengan sebutan lain.  berikut ada rumusan singkat  yang penulis petik dari tulisan : Kedudukan Dan Peranan Guru Di Sekolah Dan Masyarakat*  Oleh : Khoirurrijal, MA**  sebagai berikut.

Peranan Guru di Sekolah

Peranan guru terhadap murid-muridnya merupakan peran vital dari sekian banyak peran yang harus ia jalani. Hal ini dikarenakan komunitas utama yang menjadi wilayah tugas guru adalah di dalam kelas untuk memberikan keteladanan, pengalaman serta ilmu pengetahuan kepada mereka. Begitupun peranan guru atas murid-muridnya tadi bisa dibagi menjadi dua jenis menurut situasi interaksi sosial yang mereka hadapi, yakni : (1). Situasi formal dalam proses belajar mengajar di kelas dan, (2). Situasi informal di luar kelas.

Dalam situasi formal, seorang guru harus bisa menempatkan dirinya sebagai seorang yang mempunyai kewibawaan dan otoritas tinggi, guru harus bisa menguasai kelas dan bisa mengontrol anak didiknya. Hal ini sangat perlu guna menunjang keberhasilan dari tugas-tugas guru yang bersangkutan yakni mengajar dan mendidik murid-muridnya. Hal-hal yang bersifat pemaksaan pun kadang perlu digunakan demi tujuan di atas. Misalkan pada saat guru menyampaikan materi belajar padahal waktu ujian sangat mendesak, pada saat bersamaan ada seorang murid ramai sendiri sehingga menganggu suasana belajar mengajar di kelas, maka guru yang bersangkutan memaksa anak tadi untuk diam sejenak sampai pelajaran selesai dengan cara-cara tertentu.

Tentunya hal di atas juga harus disertai dengan adanya keteladanan dan kewibawaan yang tinggi pada seorang guru. Keteladanan sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan teori “Mekanisme Belajar” yang disampaikan David O Sears (1985) bahwa ada tiga mekanisme umum yang terjadi dalam proses belajar anak.

Pertama :Asosiasi atau classical conditioning ini berdasarkan dari percobaan yang dilakukan Pavlov pada seekor anjing. Anjing tersebut belajar mengeluarkan air liur pada saat bel berbunyi karena sebelumnya disajikan daging setiap saat terdengar bel. Setelah beberapa saat, anjing itu akan mengeluarkan air liur bila terdengar bunyi bel meskipun tidak disajikan daging, karena anjing tadi mengasosiasikan bel dengan daging. Kita juga belajar berperilaku dengan asosiasi. Misalnya, kata “Nazi” biasanya diasosiasikan dengan kejahatan yang mengerikan. Kita belajar bahwa Nazi adalah jahat karena kita telah belajar mengasosiasikannya dengan hal yang mengerikan.

Kedua :  Reinforcement, orang belajar menampilkan perilaku tertentu karena perilaku itu disertai dengan sesuatu yang menyenangkan dan dapat memuaskan kebutuhan (atau mereka belajar menghindari perilaku yang disertai akibat-akibat yang tidak menyenangkan). Seorang anak mungkin belajar membalas penghinaan yang diterimanya di sekolah dengan mengajak berkelahi si pengejek karena ayahnya selalu memberikan pujian bila dia membela hak-haknya. Seorang mahasiswa juga mungkin belajar untuk tidak menentang sang professor di kelas karena setiap kali dia melakukan hal itu, sang professor selalu mengerutkan dahi, tampak marah dan membentaknya kembali.

Ketiga : Imitasi. Seringkali orang mempelajari sikap dan perilaku sosial dengan meniru sikap dan perilaku yang menjadi model. Seorang anak kecil dapat belajar bagaimana menyalakan perapian dengan meniru bagaimana ibunya melakukan hal itu. Anak-anak remaja mungkin menentukan sikap politik mereka dengan meniru pembicaraan orang tua mereka selama kampanye pemilihan umum. Imitasi ini bisa terjadi tanpa adanya reinforcement eksternal dan hanya melalui observasi biasa terhadap model.

Di antara ketiga macam mekanisme belajar di atas, imitasi adalah mekanisme yang paling kuat. Dalam banyak hal anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa dan selain orang tua si anak, guru di sekolah merupakan orang dewasa terdekat kedua bagi mereka. Bahkan di zaman sekarang ini banyak terjadi kasus anak lebih mempunyai kepercayaan terhadap guru dibanding pada orang tua mereka sendiri. Maka dari itulah seorang guru harus bisa menunjukkan sikap dan keteladanan yang baik di hadapan murid-muridnya, biar dikemudian hari tidak akan ada istilah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’.

Selain keteladanan, kewibawaan juga perlu. Dengan kewibawaan guru menegakkan disiplin demi kelancaran dan ketertiban proses belajar mengajar. Dalam pendidikan, kewibawaan merupakan syarat mutlak mendidik dan membimbing anak dalam perkembangannya ke arah tujuan pendidikan. Bimbingan atau pendidikan hanya mungkin bila ada kepatuhan dari pihak anak dan kepatuhan diperoleh bila pendidik mempunyai kewibawaan.

Kewibawaan dan kepatuhan merupakan dua hal yang komplementer untuk menjamin adanya disiplin (S. Nasution, 1995).

Pada dasarnya peranan guru dimaksud juga ada pada guru yang bertugas Satuan Pendidikan Khusus  yakni di SLB.  Hanya sayang nasib mereka tidak semulus guru-guru yang bertugas di SD, SMP dan SMP/SMK, Para guru-guru yang bertugas di SD, SMP dan SMP/SMK, khusus dalam hal sertifikasi tidak mengalami hambatan.

Hal ini berbeda dengan sebagian guru  yang diangkat dalam posisi sebagai guru SLB. Karena keterbatasan pemahaman terhadap keberadaan SLB maka ada sebagian pengambil kebijakan di Tingkat Kabupaten (Dinas Pendidikan ) tidak mengakui adanya  guru Mata Pelajaran di SLB walaupun tugas mengajarnya di SMPLB dan/atau  SMALB.

Hal ini berbeda dengan situasi adanya kejelasan dalam penggunaan nama satuan pendidikan yang sudah di sesuaikan dengan UU No. 20 tahun 2003, yakni TKLB, SDLB, SMPLB dan SMALB. Sebagai contoh di Dinas Pendidikan  Kabupaten tidak dikenal nama SLB tetapi langsung ke jenjangnya yakni : SDLB Negeri Gumilir, SMPLB Negeri Cilacap dan SMALB Negeri  Cilacap. Status gurunya jelas, bagi guru yang diangkat dalam posisi sebagai guru SDLB adalah guru kelas, sedangkan di SMPLB dan SMALB adalah disebut guru mata pelajaran sebagaimana dengan tegas  ditetapkan status guru dalam table 5 dan 6 lampiran Juknis SKB 5 Menteri.

Hal tersebut perlu dipahami karena dewasa ini ada sebagian pengambil kebijakan di bidang kepegawaian (BKD) di tingkat kabupaten  merasa berkewajiban memberikan dukungan bagi terselenggaranya layanan pendidikan bagi siswa SMPLB dan SMALB dengan menempatkan guru CPNS/PNS di SK dengan klausul/nomenklatur  sebagai Guru SLB.

Sementara pengambil kebijakan teknis di Dinas Pendidikan memiliki pemahaman normatif bahwa pemberian tugas guru yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, tidak dapat dijadikan dasar dalam pemberian tunjangan sertifikasi guru, walaupun aturan persyaratan sebagai guru professional  telah dimiliki mereka.

Kenyataan pengambil kebijakan teknis di Dinas Pendidikan  memahami bahwa didalam lampiran Juknis SKB 5 Menteri tidak ada klausul/nomenklatur yang merujuk pada status guru SLB sebagai unit. Selanjutnya di lapangan guru-guru di SLB pada umumnya diarahkan untuk mengambil status sebagai guru kelas layaknya guru SDLB. Kondisi ini kurang menguntungkan bagi guru SLB yang diangkat sebagai CPNS/PNS dengan ijazah Sarjana Mata Pelajaran dan dalam posisi sebagai guru mata pelajaran di SLB.  

Kenyataan ini cukup memprihatinkan seolah ada diskriminasi terhadap guru SLB. Dampak lebih lanjut  tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti tidak ada CPNS/PNS yang berkeinginan untuk bertugas di SLB. Mereka hanya akan mengisi formasi yang jelas yakni sebagai guru SDLB, SMPLB, atau SMALB.

Guna menyelesaikan permasalahan ini dipandang perlu tercipta kesepahaman antara  BKD Tingkat Kabupaten dengan Dinas Pendidikan Kabupaten terhadap klausul/nomenklatur SLB. Sekedar pandangan kami bahwa dapat dipahami sbb :

1.      Diterimanya klausul SLB meliputi satuan pendidikan SDLB, SMPLB dan/atau SMALB.

2.    Pemahaman tersebut didukung adanya kenyataan bahwa untuk kepentingan fasilitasi dan pembinaan non ketenagaan hingga kini Pemerintah mengakui seorang Kepala SLB juga dalam posisi sebagai Kepala SDLB, Kepala SMPLB dan Kepala SMALB.

3.    Oleh karena itu logikanya seorang guru yang bertugas di SLB dapat ditetapkan sebagai guru kelas untuk yang mengajar di SDLB, atau  guru mata pelajaran  bagi yang mengajar di SMPLB dan SMALB dengan tetap mempertimbangkan persyaratan yang berlaku.

4.   Apabila tidak dapat tercipta kondisi di atas, demi terwujudnya hak-hak  guru SLB  maka perlu adanya langkah peninjauan kembali penggunaan klausul SLB sebagai nama satuan pendidikan khusus di Kabupaten tersebut, untuk disesuaikan dengan aturan normative yang berlaku yakni SDLB, SMPLB dan/atau SMALB.

5.   Kebijakan peninjauan kembali klausul/nomenklatur SLB di SK untuk diubah dengan sebutan SDLB, SMPLB sebagai satuan pendidikan dasar dan SMALB sebagai satuan pendidikan menengah adalah langkah bijaksana karena sesuai dengan struktur organisasi Pembina di tingkat nasional yakni adanya Direktorat PK-LK Pendidikan Dasar  dan Direktorat PK-LK Pendidikan Menengah.

6.   Kontrofersi  Peranan dengan Kebijakan bagi guru SLB sudah saatnya diselesaikan guna menghindari kondisi yang kurang menguntungkan bagi perkembangan dunia pendidikan khusus, khususnya guru-guru SLB ayang mengajar di jenjang  SMPLB dan SMALB dalam hal sertifikasi..

Oleh karena itu, sudah saatnya yang merasa dalam posisi sebagai Pembina-Pembina di tingkat Direktorat PK-LK Pendidikan Dasar  dan Direktorat PK-LK Pendidikan Menengah berkenan turut mengambil peran. Adalah merupakan kebijakan yang sangat ditunggu terkait status guru SLB. Bagi guru SLB yang bertugas sebagai guru mata pelajaran di SMPLB dan SMALB tak perlu berkecil hati. Marilah kita tunjukan kepada dunia luar bahwa dalam hal sertifikasi  kita layak diperlakukan sama dengan guru-guru yang bertugas di SMP dan SMA/SMK pada umumnya.

Hal yang menggembirakan  adalah semua orang bangga dengan kedudukan dan peran guru di sekolah, apalagi guru SLB, maka adalah sangat bijaksana manakala ada yang merasa berkepentingan untuk menunjukan kebanggaannya  kepada guru SLB yang saat ini masih mengalami masalah dengan memberikan perhatian seperlunya.

Sumber Utama :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s