RSS

PENERAPAN KURIKULUM 2013 DI SLB DI TAHUN 2014

16 Mar

Oleh Yuswan

http://img.antaranews.com/new/2012/09/ori/2012090514.jpg

Mohammad Nuh. (ANTARA)Minggu, 9 Desember 2012
 

Tanggapan pro dan kontra penerapan kurikulum 2013 muncul silih berganti. Pada dasarnya tak menjadi masalah, karena saya yakin , mereka memiliki dasar pertimbangan dalam memberikan tanggapannya. Semuanya memiliki pandangan dan tolok ukur sendiri-sendiri. Inilah yang menjadi masalah. Karena rasanya sangat mustahil akan lahir titik temu manakala untuk memberi tanggapan satu masalah dengan satu tujuan tetapi menggunakan tolok ukur yang berbeda.

Misalnya ada pertanyaan : enak mana antara sate ayam dengan soto ?  Jawabnya apa coba ! Bingungkan…?

Karena ukuran enaknya sate berbeda dengan ukuran enaknya soto. Ya nggak mungkin ketemu jawaban  sesuai yang diharapkan.

Untuk mendapatkan jawaban sesuai harapan ya buatlah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan satu kriteria atau ukuran saja.

Demikian pula dalam hal penerapan kurikulum tahun 2013, khususnya kurikulum SLB. Bagi pihak yang memberikan tanggapan bahwa “ ada diskriminasi”  terhadap siswa SLB karena penerapan kurikulum SLB dimulai tahun 2014, sementara untuk kurikulum lain terhitung tahun 2013 seperti diungkapkan oleh Bapak Ferdiansyah dari Anggota Komisi Pendidikan DPR ada benarnya.  Demikian pula kebijakan penerapan kurikulum SLB baru bisa dilaksanakan tahun 2014 sebagaimana diungkapkan oleh Bapak Dr Mudjito selaku  Direktur Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar Kemendikbud,   juga bisa diterima.

Lho kok keduanya benar dan bisa diterima ?

Bapak Ferdiansyah melihat dari kacamatan hak anak, Anak Berkebutuhan Khusus siswa SLB juga anak Indonesia yang memiliki hak sama dengan anak pada umumnya. Kenapa tidak diberi kesempatan yang sama dengan anak pada umumnya dalam menikmati kurikulum 2013 ?

Sementara  Bapak Dr Mudjito mengatakan meskipun jumlah siswa SLB sedikit, sekitar 116 ribu, tapi dari jumlah varian kecacatannya banyak. Kondisi itu belum lagi jika ditambah kurikulum kompensatoris yang tidak ada di sekolah umum. Kurikulum itu merupakan kompensasi dari kecacatan. Misalnya kompensasi untuk anak tunanetra harus ada kompetensi untuk mobilitas jadi kurikulum diciptakan sendiri di luar kurikulum sekolah standar pada umumnya. “Beliau melihat dari kacamata teknisnya, begitu rumit dalam pandangan Beliau. Pertimbangan Beliau juga bisa diterima  karena karakteristik Anak Bekebutuhan Khusus (ABK) membutuhkan kurikulum sesuai kebutuhan anak  bukan sesuai keinginan kita. Menurut Mudjito, akan lebih baik jika penerapan kurikulum 2013 di SLB sedikit mundur tapi pada penerapan 2014 dapat dilakukan secara serempak di semua SLB. Ini karena kompleksitasnya kurikulum di SLB.

Terus bagaimana baiknya ?

Ya mari kita sepakati bersama dari sisi mana kita melihat permasalahan penerapan kurikulum SLB yang dimulai tahun 2014.

Kalau kita melihat dari sisi hak anak,  adalah amat bijaksana manakala Pemerintah dalam mengambil kebijakan tidak menempatkan Anak berkebutuhan Khusus (ABK) sebagai siswa SLB berbeda dengan anak Indonesia pada umumnya. Bapak Ferdiansyah sangat bijak menempatkan ABK dalam posisi setingkat dengan anak Indonesia pada umumnya.

Sementara kalau kita melihat dari sisi teknisnya, adalah sangat bijaksana manakala kita semua mampu menempatkan kebutuhan ABK siswa SLB sebagai dasarnya.

Karena kegiatan layanan di SLB ada proses rehabilitasi dan edukasi yang berjalan secara bersamaan dan tidak mungkin dipisahkan. Perjalanan usia anak tak mungkin dihentikan ini berdampak pada kebutuhan pendidikannya.  Sementara kondisi keterbatasannya juga membutuhkan perlakuan rehabilitasi secepatnya untuk mengurangi atau menghindari kondisi yang lebih berat. Oleh karena itu untuk kepentingan ini membutuhkan kurikulum sesuai kebutuhan anak. Menurut hemat kami, Bapak Mudjito sangat bijaksana karena  ingin memberikan apa yang benar-benar dibutuhkan Anak Berkebutuhan Khusus di SLB.

Kami hanya berharap jangan sampai menerapkan kurikulum sekedar untuk memenuhi keinginan kita. Karena kalau kepada anak selain siswa ABK kita bisa menerapkan keinginan anak harus bisa menjadi siswa yang menguasai materi kurikulum. Sementara kepada siswa SLB kita balik. Anak sekolah di SLB membutuhkan apa dan apa yang bisa kita berikan, bukan akan kita jadikan apa.

Kami merasa yakin bila kita memiliki komitmen yang sama, kita pasti bisa memberikan yang terbaik buat mereka Anak Berkebutuhan Khusus sebagai siswa SLB.

Sumber :Inilahkoran.com – pendidikan  ,  Sabtu, 23 Februari 2013 | 07:15 WIB
About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Maret 2013 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: